Minggu, 08 Januari 2017

Esai "Cerpen Surat Untuk Nining karya Cicilia Anggraini Oday"


Indri Zikria Oktaviani  

Seiring dengan kemajuan peradaban, rupanya pola pikir manusia pun terus berkembang. Ada saja karya yang diciptakan secara berbeda sehingga menarik perhatian para pembaca. Surat Untuk Nining karya Cicilia ini pun tergolong menarik. Mengapa? Cicilia menggunakan surat sebagai media untuk menjabarkan runtutan peristiwa yang terjadi di dalam cerpen itu. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali terjadi. Di New York ada seorang penulis yang bernama Jamie Jams yang juga menggunakan kumpulan e-mail sebagai media untuk menceritakan novelnya yang berjudul “Andrew and Joey”. Semua tokoh, karakter, latar, amanat, dan sebagainya tergambar di dalam kumpulan e-mail tersebut.

         Surat Untuk Nining menceritakan tentang kisah hidup Mirawati, seorang wanita yang ingin mengubah nasibnya, ibunya, dan kedua adiknya dengan cara menjadi TKW di luar negeri. Lewat surat yang ditulis Mira, Cicilia menjelaskan bagaimana konflik yang terjadi diantara para tokoh-tokohnya. Dalam surat tersebut Cicilia juga menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana urutan kejadian yang dialami para tokoh. Ini membuktikan bahwa Surat Untuk Nining sangat menarik. Selain dikemas dengan surat, bahasa yang digunakan Cicilia pun sangat mudah dipahami, sehingga tidak perlu susah-susah menafsirkan cerpen ini.

      Hal lain yang menarik ialah bagaimana Cicilia bisa menjabarkan dengan jelas kehidupan para tokoh-tokohnya hanya lewat selembar surat dari Mira. Tokoh utama yaitu Mira, yang sangat ingin melanjutkan kuliahnya jika nanti sudah memiliki uang banyak dari hasil kerja yang ia tekuni. Mira ingin sekali menjadi wanita karir karena ingin memiliki lebih banyak uang direkening. Tokoh kedua yaitu Nining, adiknya yang paling besar. Nining merupakan siswa lulusan SMP yang sedang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Tokoh ketiga yaitu Ewis, adik Mira yang paling kecil. Ewis belum sekolah karena memang ditunda dahulu, ibunya belum ada uang untuk membiayai sekolah Ewis. Tokoh keempat yaitu Ibunya Mira, yang juga berprofesi sebagai pembantu. Tokoh kelima yaitu Ayahnya Mira, dikatakan bahwa ayahnya Mira memiliki istri lain yang bernama Juita. Tokoh selanjutnya yaitu Mama Flora dan Mami, yang berprofesi sebagai penyalur TKW. Mira menyebutkan bahwa Mama dan Mami sangat disegani olehnya dan kawan-kawannya di sana. Mereka menganggap Mama dan Mami adalah sahabat. Meski kerap kali Mira ditampar, Mira tetap menerima perlakuan tersebut demi uang. Tokoh terakhir tidak dijelaskan dengan detail siapa orangnya, yang jelas pria tersebut merupakan seorang anak dari majikan Mira. Ia kuliah di luar negeri dan Mira jatuh cinta padanya.

       Begitulah kira-kira penjabaran tokoh yang digambarkan oleh Cicilia di dalam surat Mira. Menurut analisa saya, cerpen ini mengandung sindiran yang amat nyata bagi bangsa Indonesia. Di dalam cerpen ini dikatakan bahwa kerja di negeri orang gajinya lebih banyak dibandingkan kerja di negeri sendiri. Diibaratkan jika kerja di luar negeri, gajinya setara dengan gaji para menteri. Kekayaan hanyalah milik mereka yang berkuasa. Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan Cicilia. Kehidupan sosial yang digambarkan Cicilia dalam cerpen ini sangat sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia zaman sekarang, dimana masyarakat Indonesia berbondong-bondong mencari kesempatan kerja di luar negeri. Apapun itu pekerjaannya, yang penting mereka mendapatkan banyak uang untuk bertahan hidup. Hal ini jelas merupakan sindiran yang diselipkan oleh Cicilia untuk Indonesia. Surat Untuk Nining memang sangat menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang telah dibutakan oleh uang, yang beranggapan secara tidak langsung bahwa negeri sendiri sudah tidak menjamin kelangsungan hidup mereka hingga mereka berlomba-lomba mencari peruntungan nasib di negeri orang.

          Sebenarnya, yang menarik perhatian adalah tokoh Mira. Cicilia sangat nyata mendeskripsikan kondisi moral perempuan di Indonesia yang mudah terpedaya oleh uang. Runtuhnya harga diri Mira, ketika ia telah memberikan tubuhnya untuk orang yang mempekerjakannya sebagai pembantu hanya karena didasari cinta, hal demikian banyak dialami oleh perempuan-perempuan yang menjadi budak orang-orang asing. Selain harga diri, nyawa pun menjadi taruhan. Layaknya tokoh Mira yang di akhir cerita diketahui telah tewas entah karena apa, itu pun kerap kali dialami oleh masyarakat Indonesia yang menjadi kacung di negeri orang. Memiliki niat yang baik untuk mengubah nasib hidup, pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Penganiayaan, pemerkosaan, bunuh diri, dan berbagai alasan lain menyebabkan mereka kehilangan segalanya termasuk nyawa . Betapa Cicilia sangat menyindir mereka, kacung-kacung yang tak berdosa itu, yang lumrah akan kasus-kasus kekerasan fisik dan psikis.

           Dapat kita lihat bahwa Cicilia menggambarkan kehidupan pedesaan yang dialami tokoh Mira, Nining, Ewis, dan Ibunya. Kehidupan yang sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Itu sebabnya, keluarga kecil tersebut tidak mengenal istilah rekening, bank, transfer, bahkan menteri. Terlihat jelas, betapa lemahnya bangsa Indonesia, khususnya masyarakat yang hidup di desa atau kampung, yang mudah tergiur oleh iming-iming uang. Jika melihat realita sosial saat ini, memang terlihat bahwa biasanya yang mudah terperangkap adalah masyarakat pedalaman yang buta akan kecanggihan teknologi. Cicilia sangat pintar menyiratkan sindirian-sindirannya untuk Indonesia, sehingga cerpen ini menjadi menarik untuk dibaca.

           Terlepas dari makna cerpen itu sendiri, mari kita lihat bagaimana sudut pandang yang digunakan oleh Cicilia. Surat Untuk Nining merupakan surat yang ditulis Mira untuk Nining. Di dalam surat itu memang terlihat, bahwa yang bercerita adalah Mira. Dapat disimpulkan bahwa Cicilia menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Mengapa? Karena memang Mira yang tahu persis apa yang dialaminya, itu sebabnya Mira menjabarkan segala sesuatu  yang ia alami dengan menggunakan kata ganti “Teteh”.

         Penggunaan sudut pandang ini terlihat unik. Di awal memang terlihat bahwa yang bercerita adalah Mira. Namun di akhir cerita hadir tokoh Nining yang juga ikut menjadi pencerita dengan menggunakan kata ganti “aku”. Lewat penceritaannya, Nining memberitahukan kepada pembaca bahwa Mira telah tewas sebelum surat itu ditemukan dan dibaca oleh Nining. Tentu jawabannya adalah Nining yang menceritakan segala yang dialami Mira dengan menceritakan ulang surat dari Mira, karena bagaimana mungkin Mira bisa bercerita langsung sedangkan dirinya telah tewas. Itu berarti sudut pandang yang digunakan oleh Cicilia adalah orang pertama lagi. Memang hanya satu sudut pandang yang digunakan, namun justru membuat bingung karena ada dua pencerita yang menggunakannya.

           Sudut pandang yang digunakan Cicilia menimbulkan banyak penfsiran. Ada yang berpendapat bahwa yang bercerita adalah Mira, ada pula yang berpendapat bahwa Nining yang bercerita karena memang di akhir baru dapat terlihat bahwa Mira telah tewas. Jadi, sebenarnya masih abu-abu tentang sudut pandang apa yang digunakan Cicilia  dalam Surat Untuk Nining. Baik Mira maupun Nining sama-sama menjadi menjadi tokoh penting yang membangun cerita. Jika Mira tidak menuliskan surat untuk Nining, keluarga tidak akan tahu apa yang sebenarnya dialami Mira. Meskipun Nining membacakan surat tersebut di dalam hati, kehadiran Nining di akhir cerpen memberitahukan kepada pembaca bahwa Mira tewas, seakan-akan hanya Nining yang tahu persis pengalaman Mira, karena Ewis belum bisa membaca, sedangkan Ibunya sedang dalam keadaan semaput (pingsan).

           Lagi-lagi saya ingin mengatakan bahwa cerpen ini sangat menarik, baik untuk dibaca maupun diteliti. Andai saja cerpen ini disajikan lewat percakapan-percakapan para tokohnya atau seperti cerpen-cerpen lain pada umumnya, tentunya cerpen ini akan semakin panjang ceritanya. Semakin panjang cerpen disajikan, maka peluang terjadinya kebosanan  yang dialami pembaca akan semakin besar. Hadirnya Surat Untuk Nining yang menggunakan surat sebagai media pengungkap cerita membuat cerpen ini menjadi sangat ringkas dan tentunya menimbulkan rasa penasaran dan multitafsir bagi pembacanya. Inilah nilai plus untuk cerpen karya Cicilia, ia mampu menyajikan  bacaan yang unik, menarik, dan sangat mudah dipahami.

        Saat membaca bagian awal, saya tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Mira akan tewas, karena memang saya berasumsi bahwa Mira adalah pelaku utama, jadi ia akan terus muncul di dalam cerpen hingga cerpen tersebut selesai. Namun setelah membaca bagian akhir, saya baru dapat memahami bahwa Mira telah tewas sebelum surat itu sampai ke tangan Nining. Untuk dapat memahaminya pun saya harus baca berulang kali di bagian akhir, karena memang tidak dikatakan langsung oleh Cicilia ataupun oleh tokoh di dalam cerpen bahwa Mira telah tewas.

Para pembaca dipaksa untuk berpikir dan menebak sendiri maksud yang ingin disampaikan oleh Cicilia di bagian akhir cerpen. Tertulis “...menyentuh tubuh jenazah..” dapat dipahami bahwa Nining, Ewis, dan Ibu saat itu menyentuh jenazah Mira itu sebabnya petugas medis menegur mereka. Lalu dikatakan lagi “....kami bergeming di dalam ambulans...” dapat dipahami bahwa petugas medis membawa jenazah Mira beserta Nining, Ewis, dan Ibunya menggunakan ambulans dari bandara menuju rumah mereka. Dapat disimpulkan bahwa Mira telah tewas. Namun di dalam cerpen tidak dijelaskan mengapa Mira tewas. Lagi-lagi cerpen ini menimbulkan multitafsir, bisa jadi Mira tewas karena diperkosa oleh anak majikannya. Dapat dikatakan pula Mira tewas karena disiksa oleh majikannya. Atau bisa dikatakan Mira tewas karena bunuh diri. Masih banyak penafsiran lain yang mungkin menjadi alasan mengapa Mira tewas.

Bukan karya sastra namanya jika tidak menimbulkan multitafsir. Sesungguhnya disitulah letak estetika karya sastra. Sebagai akhir, mari kita simpulkan amanat apa yang ingin disampaikan Cicilia lewat Surat Untuk Nining. Secara keseluruhan, Cicilia ingin mengatakan kepada masyarakat Indonesia agar tidak mudah terpengaruh oleh janji-janji manis yang mengatasnamakan uang. Sesungguhnya bekerja di negeri sendiri lebih baik dibandingkan bekerja di negeri orang yang otomatis berjauhan dari keluarga. Ia tidak ingin nasib masyarakat Indonesia sama seperti nasib Mira, yang tewas di negara orang hanya karena ingin mengubah nasib keluarganya. Masyarakat Indonesia harus lebih cerdas dalam menentukan jalan hidupnya. Sebenarnya sindiran Cicilia pun tertuju pada pejabat-pejabat negara. Indonesia memang kaya sebenarnya. Andai saja uang-uang rakyat tidak disalahgunakan oleh pejabat-pejabat tersebut mungkin bisa digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan yang baru, sehingga masyarakat tidak perlu bekerja ke luar negeri dan membahayakan diri sendiri. Terakhir, tetaplah mencintai negeri sendiri karena disitulah tempat teraman untuk bertahan hidup.

Esai "Kartu Pos dalam Cerita Pendek"


Alex R. Nainggolan

Sebuah kartu pos memang merupakan sebuah benda yang “klasik” saat-saat ini. Beragam berita bisa saja tertulis di sana. Jika dulu kartu pos merupakan alat yang efisien untuk mengabarkan suatu peristiwa, sekarang orang-orang justru lebih memilih alat komunikasi lainnya. Lewat ponsel, misalnya-yang langsung berkabar saat itu juga. Dengan media SMS, dengan cepat menuju pada tempatnya. Murah, cepat dan efisien. Lantas mengapa seorang Agus Noor, penulis cerita pendek yang lumayan produktif kembali mengangkat masalah kartu pos? Jika dulu Chairil Anwar bercakap masalah puisinya dengan H. B. Jassin dengan kartu pos, memang terasa aura kehangatan di sana. Sapaan kata, dengan pelbagai kegalauan hatinya dapat dirasakan yang kesemuanya disimpan dengan rapi di PDS H.B. Jassin.

Barangkali karena klasik itu tadi. Segala hal yang kuno menjadi antik. Penggunaan kartu pos sebagai pengantar kabar kembali dikuak. Dengan demikian, segala hal yang penuh dengan aroma nostalgia tercuat lagi. Kesan yang tumbuh di sana, ialah sebuah pesan yang penuh dengan canda meski tetap serius. Tulisan-tulisan tangan dari seorang sahabat yang dirindukan dengan pelbagai tanggapannya terhadap cerpen-cerpennya. Semuanya itu dapat disimak dalam kumpulan cerita pendek terbarunya, diterbitkan oleh Kompas pada bulan September 2006.

Setelah menerbitkan kumpulan monolog Matinya Toekang Kritik, Agus menghimpun sejumlah cerpennya yang tergabung dalam Potongan Cerita di Kartu Pos. melalui prosanya Agus berkisah banyak peristiwa. Terkadang ia hanya menyentil sebagian misteri kehidupan. Sejumlah cerita yang ditulisnya mengingatkan kita pada gaya kisah realis, dengan pelopornya semacam Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya-meskipun imaji yang ditawarkan agus terasa lebih menyayat. Kebanyakan cerita yang ditulisnya lebih bersimbiosis pada kehidupan yang kejam, penuh dengan kekejian, dendam maupun petaka berbalut jadi satu.

Agus tidak serta mertya berkhotbah ihwal mana yang baik atau tidak. Ia dengan luwes memaparkan realita tersebut. Membalutnya dengan imaji yang terasa seperti puisi. Ia mengambil sikap untuk menjadi juru cerita saja, tida lebih. Membiarkan ceritanya untuk ditafsirkan secara luas. Dengan demikian, cerita-ceritanya dapat masuk ke dalam benak pembaca-katakanlah untuk mencerna kembali apa yang dimaksud pengarang.

Kumpulan ini terdiri dari sembilan cerita. Pun ada sebuah cerita yang terdiri dari tiga bagian. Lainnya juga terkadang merupa puzzle, acak-acakkan-sehingga jika ingin tahu keseluruhan cerita secara utuh pembaca harus membacanya dulu sampai habis. Kemudian menyusunnya kembali di kepala. Setelah itu baru terang, apa yang diumaksud pengarang. Alur cerita bisa dengan segera memadat, kemudian cair kembali. Ketegangan demi ketegangan bisa hadir berulangkali dalam cerpen-cerpennya. Agus dengan lihai menjungkirkan peristiwa, membuntingi realitas untuk kemudian menertawakannya.

Dalam “Komposisi Sebuah Ilusi” misalnya imajinasi tokoh dengan maneken. Maneken yang hadir bergantian dengan tokoh laki-laki sehingga lebih cocok sebagai dialog. Imajinasi yang liar-mungkin muncul dari bawah sadar kian menguatkan cerita ini. Setiap penuturan dibalas dengan paragraf lainnya. Kebinalan gairah untuk bersetubuh hadir bergantian. Dengan ketertarikan secara seksual. Meski pada akhirnya laki-laki dan boneka tersebut memang bercinta dan si lelaki mati. Mungkin oleh cinta? Agus mendeskripsikan aroma percintaan tersebut dengan diksi yang puitis: Kami saling pandang sama-sama terangsang. Kami segera bergegas ke sebalik rimbun pepohonan. Kami saling pagut saling regut. Peri dan mambang bermunculan dari dalam gelap, memandangi kami yang sama-sama menggelinjang telanjang. (halaman 12).

Keidentikan Agus ialah seringnya ia mengangkat masalah-masalah sosial dalam ceritanya. Kritik yang dilakukannya lebih diselimuti oleh aroma penindasan. Masalah gelandangan (kaum kere, meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma) hadir dalam cerpen “Pagi bening Seekor Kupu-kupu” dan “Mata Mungil yang Menyimpan Dunia”. Meskipun Agus lebih menyamarkan semua idiom tersebut dengan kupu-kupu, atau sebuah mata. Kupu-kupu yang identik dengan metamorfosanya bertemu dengan bocah. Masalah ketimpangan antara si miskin dan kaya diangkat Agus dengan menyodorkan bentuk yang lain. Proses perubahan bocah menjadi kupu-kupu yang asyik mengintip perilaku hidup bocah lainnya.

Kecemburuan dengan pelbagai perbandingan sehingga muncul keinginan untuk bertukar tempat antara bocah dan kupu-kupu. Pada bagian II dengan bahasa polos yang kebocahan Agus menulis begini: pasti seneng. Enggak perlu ngamen. Enggak perlu kepanasan. Enggak perlu kerja di pabrik kalau malem, ngepakin kardus. Enggak pernah digebukin bapak. Kalau ajah ibu enggak mati, dan bapak enggak terus-terusan mabuk. Pasti aku bisa sekolah. Pasti aku kayak bocah-bocah itu. Nyanyi. Kejar-kejaran. Enggak perlu takut ketabrak mobil kayak Joned. Hiii, kepalanya remuk, kelindes truk waktu lari rebutan ngamen di perempatan. (halaman 45).

Tawaran bahasa yang dikembangkan Agus, barangkali teramat biasa. Namun bagaimana ia meraciknya, sehingga menelingkupi relung-relung batin pembacanya, merupakan sebuah keajaiban. Yang mengingatkan saya pada tawaran sejumlah cerita yang pernah ditulis Chekov, sebuah realitas yang dijabarkan, tanpa bermaksud menggurui pembacanya. Maka kita serasa diajak tamasya ke sebuah tempat, di mana kita dilepas dalam pengembaraan sendiri-sendiri saja.

Penjengukan terhadap upacara kehidupan manusia diramu dengan rumus yang sama: sederhana. Narasi yang mengisyaratkan bila kita mampu memeras inti dari hidup ini dengan tidak tergesa-gesa. Dan kita tidak diajak untuk menenggelamkan keterlarutan kita terhadap sebuah kesedihan, misalnya, dengan berlarat-larat. Dengan sigap Agus menawarkan keterpesonaan lain. Sehingga ia dapat dengan utuh merangkum sebuah kisah.

Pun dalam “Mata Mungil yang Menyimpan Dunia”, ia menyadap peristiwa kekaguman seseorang terhadap sebuah mata. Anehnya mata tersebut milik gelandangan yang kerap bermain-main di kolong jembatan. Barangkali kita yang setiap hari bertemu dengan gelandangan macam itu, jarang memerhatikannya. Barangkali kita terlalu angkuh untuk menatapnya, sebab kita terlanjur merasa jijik untuk melihatnya.

Namun Agus dengan sekejap mengisyaratkan bentangan peristiwa lain. Ia menulis begini dalam cerpen tersebut: Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Dunia yang tenang bening terbentang dalam mata mungil bocah itu. Dunia yang seolah-olah terus berpendaran dan perlahan membesar, hingga segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan, karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela batuan hitam. (halaman 167). Barangkali memang benar adanya jika dikatakan bahwa mata adalah jendela jiwa. Melalui mata seluruh rasa terpancar, dengan warna-warni kehidupan di dalamnya.

Kritik yang dilontarkan Agus juga tak hanya berada di lingkar kehidupan horisontal. Ia pun mencoba untuk “menegur” penguasa lewat cerpennya. Cerpen “Cerita buat Bapak Presiden…”, misalnya Agus mengambil seorang tokoh yang ingin bertemu dengan Presiden yang diibaratkan dapat mendengar semua keluhan rakyatnya. Semula memang mendengarkan. Namun lama kelamaan dengan terbatasnya waktu, Presiden itu sendiri yang mengatakan untuk hanya mendengarkan perkataannya. Ah, betapa sulitkah untuk menjadi pendengar yang baik? Cerpen yang mengingatkan saya pula pada kisah Seno Gumira Ajidarma tentang nasib pendengar yang baik.
Demikianlah. Cerpen memang merupakan dunia tersendiri, setidaknya yang dirasakan oleh penulisnya sendiri. Dengan cepat setiap kali membaca sebuah cerita, terlepas apakah cerita tersebut realis atau imajiner-setiap orang bisa menertawakan sendiri ketololannya, ataupun penyesalan yang dilakukan diam-diam. Sebagai bahan permenungan cerita dapat segera larut di pikiran pembaca. Sebab, bagaimanapun pembaca merupakan raja terbesar. Tanpa adanya pembaca sebuah karya sehebat apapun tidak akan pernah “berbunyi”. Memang seluruh cerpen dalam buku ini telah dipublikasikan di media massa. Bahkan beberapa cerpen pernah diikutkan dalam antologi lain. Meskipun demikian sebagai kumpulan, cerita yang terjalin tetap menarik untuk disimak. Upaya Agus untuk membongkar seluruh sisi kehidupan, baik itu yang gelap maupun tidak layak diapresiasi. Sebagai pengamat kehidupan. Jika hidup tak melulu putih. Sebagai juru kisah Agus telah tampil dengan kisahnya. Seperti dongeng seribu satu malam. Namun Agus menyuguhkan hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Hidup yang malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, meminjam ungkapannya dalam cerpen Pesan Seorang Pembunuh. Barangkali kita dapat untung dengan membaca sejumlah cerita dari Agus. ***

Cerpen "Upacara Hoe"


Guntur Alam

SEMINGGU sebelum kematiannya, Papa meminta Mei Lan menghubungi kedua adiknya, A Feng dan Gina untuk pulang. Terutama A Feng karena dia anak lelaki satu-satunya. Papa ingin menjemput ajal di tengah anak-anaknya, selain itu Papa ingin agar A Feng yang membawa hoe[1] saat peti matinya diantar ke pemakaman. Hanya anak laki-laki yang berhak membawa hoe. Namun masalahnya, sejak dulu A Feng tak pernah merasa sebagai anak laki-laki Papa.


Papa meninggal kemarin malam, pukul dua belas setelah berjuang melawan kanker usus yang dia derita. Semenjak itu pula, anak-cucu Papa membakar nyuko untuk bekal perjalanannya. Uang kertas bergambar bujur sangkar berwarna perak di tengahnya itu dipercaya sebagai uang akhirat yang berlaku di dunia roh. Dunia baru Papa.

Ruang tengah tempat peti mati Papa diletakan sudah bersih dari sofa, lemari, dan perabotan rumah tangga lainnya. Asap hio meliuk-liuk, mengiringi doa-doa yang dipanjatkan. Isak-tangis dan ratapan terus memenuhi ruangan. Mata A Feng memerah. Dari dulu dia benci dengan ratapan di dekat peti mati, baginya kematian adalah awal sebuah kehidupan baru. Untuk apa diratapan? Usai ini, Papa akan hidup bahagia di kahyangan atau bereinkarnasi untuk menebus dosa di kehidupan sebelumnya.

Dosa. A Feng seakan baru saja mendengar satu dari sepuluh perintah Tuhan yang diceritakan Joshua saat mereka SMP dulu. Mengingat Joshua membuat A Feng ditarik ke dalam ruang kamar mandi yang gelap, sempit, basah, dan dia yang didera rasa takut serta kedinginan.

“Anak gila kau! Anak gila!” Papa berteriak seperti kesetanan, lalu lecutan ikat pinggang mendarat ke punggungnya yang putih tanpa baju. Dia tersungkur di lantai. Meringis. Menahan sakit. Sementara gerimis sudah turun tanpa guntur di sudut matanya.

“Oh Dewa! Karma apa yang menimpahku!”

Papa meninggalkannya di dalam kamar mandi yang terkunci, di atas lantai dingin dengan tubuh bugil dan menggigil. Sementara di luar sana, dia mendengar isak tangis Mama yang tak berdaya, juga tangis kakak perempuannya; Mei Lan.


PAPA baru saja selesai dimandikan dan Mama tengah menyiapkan tujuh lapis pakaian yang akan dikenakan Papa sebelum dia berbaring di dalam peti matinya, saat Mei Lan membawa A Feng dan Gina ke dalam kamar yang dulu ditempati A Feng sebelum dia tinggal di Jakarta.

“Mama ingin masa berkabung tidak terlalu lama,” ucap Mei Lan, dia satu-satunya anak Papa yang sudah menikah dan memberinya tiga orang cucu. “Besok kita akan memakamkan Papa.”

“Baguslah,” Gina menyahut cepat. “Cutiku juga sebentar. Aku harus kembali ke Jakarta.”

Mei Lan menghela napas mendengar ucapan Gina. Anak bungsu Papa yang tomboy itu seakan tak peduli.

“Pekerjaanku sangat banyak,” tambahnya, tanpa dosa.

“Aku menunda kepergian ke Belanda bersama Joshua untuk memenuhi keinginan Papa. Kurasa pengorbananku lebih banyak darimu,” A Feng membuang wajah. Dari dulu, antara dia dan Gina memang jarang akur. A Feng merasa tubuh yang dia miliki adalah tubuh Gina, sementara tubuh Gina adalah tubuhnya. Mungkin para dewa di kahyangan telah salah menitiskan jiwa mereka.

“Kau masih berhubungan dengan Joshua?” Mei Lan melipat tangannya di dada.

“Aku mencintainya, Tuaci. Dan kami akan menikah di Belanda.”

“Feng!” Mei Lan membentaknya. A Feng melengos. “Kau jangan mengecewakan Papa.”

“Jangan cerahami aku, Ci.”

“Ini bukan ceramah, tetapi ini tentang budaya kita sebagai orang Tionghoa. Kita diwajibkan untuk menghormati dan berbakti kepada orangtua. Dan kau tahu apa artinya itu?” Mei Lan memandang A Feng, laki-laki berwajah manis dengan jari jemari lentik itu tak menjawab. “Artinya kita harus membuat Papa tenang dan senang. Jangan menimpahkan karma buruk dalam hidupmu, dalam keluarga kita, dalam perjalanan Papa ke alam akhirat.”

Hening. Mei Lan tahu, A Feng tak pernah mau berdebat dengannya. Sesungguhnya A Feng adalah adik yang baik dan manis. Setidaknya bagi Mei Lan. Hanya saja, sejak dulu A Feng dan Papa tidak pernah akur. Terutama tentang pilihan hidup.

“Pokoknya, sebagai anak laki-laki Papa, kamu yang akan membawa hoe di depan peti mati.”

“Suruh Gino. Dia anak laki-laki Papa,” A Feng tergesa pergi, keluar dari pintu kamar, meninggalkan Mei Lan yang nyaris saja jatuh ke lantai kamar. Di depannya, Gina hanya diam dan membuang muka ke arah jendela.

Saat menyadari A Feng sudah menghilang di balik daun pintu kamar yang tertutup, Mei Lan terburu mengejarnya. Namun dia urung melakukan niatnya karena berpapasan dengan Mama yang membawa tujuh lapis baju yang akan dikenakan pada Papa.

“Bantu Mama memasang baju ini,” pinta perempuan dengan uban memutih di kepalanya itu. Mei Lan tak menjawab sepatah kata pun. Dadanya terasa memar. Dia mengambil baju-baju yang ada di pangkuan Mama. Dalam diam dia mengekor di belakang Mama.

“Baju putih ini, baju yang Papa kenakan saat kami menikah dulu,” ucap Mama saat lapis pertama baju dikenakan pada Papa. Memang demikian aturannya. Lapis pertama dari tujuh lapis baju yang akan Papa kenakan dalam perjalanan ke akhirat adalah baju putih yang dikenakan saat almarhum menikah dulu.

Pikiran Mei Lan tidak tertuju dengan apa yang dia kerjakan. Dia masih teringat dengan penolakan A Feng. Lalu bayangan-bayangan buruk di masa lalu itu menghantam ingatannya tanpa ampun. Tentang A Feng dan kerasnya Papa mendidik anak laki-lakinya itu. Namun A Feng tetaplah A Feng yang dia tahu. Adik laki-lakinya yang lembut, yang gampang menangis, tak pandai berkelahi dan lebih senang main boneka dengannya tinimbang main perang-perangan.

Setelah tujuh lapis baju dikenakan, Papa dibaringkan di atas tempat tidurnya. Wajahnya yang tirus membuat kepedihan menggelayuti mata Mei Lan. Lenyap sudah kebengisan yang terpasang di wajah Papa dulu. Mei Lan hanya dapat memerhatikan ketika tangan keriput Mama memasangkan mutiara di mata, mulut, hidung, dan telinga Papa. Mei Lan ingat, dulu saat kematian kungkung, neneknya pernah bercerita jika mutiara ini dipercaya sebagai penerang bagi mayit selama perjalanan menuju alam akhirat.


“AKU capek berpura-pura, Ci. Aku capek.”

Mei Lan menggigit bibirnya. “Tapi ini salah. Kau menyalahi aturan.”

“Ci,” A Feng mengambil tangan Mei Lan, kemudian menggenggamnya, hangat. “Dari dulu Tuaci tahu apa yang kuinginkan.”

Mei Lan merasa nyawanya tercerabut saat itu juga. Bayangan A Feng yang hobi mencoba lipstik dan bedak barunya, juga baju-baju dalam lemarinya. Tak hanya itu. Mei Lan pernah memergoki A Feng dan Joshua berciuman dan … ah, Mei Lan tak sanggup mengingatnya. Dia pikir, apa yang A Feng dan Joshua lakukan di masa itu hanyalah kenakalan dan keingin-tahuan anak kelas tiga SMP. Sungguh dia masih menyesal sampai detik ini, karena dialah yang mengadukan apa yang dilihatnya kepada Papa. Tanpa ampun, Papa menghajar A Feng dan mengurungnya di kamar mandi. Sejak itu pula Papa melarang A Feng berteman dengan Joshua, satu-satunya teman yang dimiliki A Feng sejak dari TK.

“Ini kesempatanku untuk menentukan pilihan hidup, Ci,” suara A Feng merambat perlahan di telinganya.

“Tapi kenapa harus sekarang? Kenapa harus di upacara kematian Papa?”

“Karena ini kesempatan terbaikku,” suara A Feng terdengar mantap.

Mei Lan terdiam. Memandangnya.

“Aku ingin menjadi anak perempuan Papa seutuhnya. Anak perempuan kedua Papa. Tak peduli orang lain mau berkata apa tentang pilihan hidupku. Karena aku merasa diriku perempuan.”

Mei Lan merasa oksigen pergi menjauh dari jangkauan hidung, mulut dan paru-parunya.

“Tuaci juga tahu kan, kalau Gina pun menginginkan hal yang sama,” A Feng melanjutkan ucapannya, terdengar santai, tanpa beban. “Dia ingin menjadi anak laki-laki Papa. Satu-satunya. Seutuhnya. Tak peduli orang lain berkomentar apa pun tentang dia. Dan asal Tuaci tahu, Gina sudah punya pacar. Namanya Riska. Teman kantornya. Gina pernah menceritakan semuanya. Dia bahagia. Aku bahagia dengan pilihan hidupku. Hanya itu. Tak ada yang lain. Urusan dosa, karma, dan lainnya itu urusan kami dengan Tuhan.”

Mei Lan merasa mendengar suara lecutan ikat pinggang Papa yang mendarat di kulit punggung A Feng bertahun-tahun lalu. Kulit punggung yang putih tanpa sehelai kain. Tak ada jeritan. Tak ada tangis dari dalam kamar mandi itu. Dia tahu, A Feng telah menggigit tangisnya agar tak terdengar olehnya dan Mama. Sementara lecutan ikat pinggang yang beradu dengan kulit A Feng menerornya, dia meringkuk ketakutan dalam pelukan Mama. Mereka berdua bertangis-tangisan. Sementara Gina, dia hanya berdiri mematung, memandang siluet punggung Papa yang ada di depan pintu kamar mandi.


ENTAHLAH, Mei Lan masih saja didera cemas dan ketakutan. Dia merasa keputusan yang telah mereka ambil sangatlah buruk. Bayangan karma dan feng shui buruk menghantui pikirannya. Juga ratapan Papa dari alam akhirat. Namun, ucapan Mama-lah yang membuatnya sedikit tenang.

“Tak apa. Jangan risau. Setiap orang punya pilihan dalam hidupnya. Mama yakin Papa setuju dengan keputusan kita. Sejak dulu, Papa sering bercerita betapa dia menyesal sudah begitu keras terhadap A Feng.”

Mama berusaha tersenyum.

“Hanya saja Mama minta satu hal, sama seperti keinginan Papa yang tak sempat dia utarakan pada kalian,” Mama menelan ludahnya. “Kalian harus saling menjaga dan tetap berkumpul layaknya keluarga Tionghoa lainnya di mana pun kalian berada. Keluarga adalah nomor satu.”

Air mata Mei Lan tumpah ruah saat melihat A Feng memeluk dan mencium Mama. Mengingat semua itu membuat Mei Lan perlahan tenang. Upacara kematian Papa akan memasuki puncaknya. Meja persembahan sepanjang dua meter sudah dipenuhi hidangan. Di bagian depan meja, kepala babi telah tersedia, pun dengan kepala kambing di meja berikutnya. Tak lupa buah-buahan dan berbagai hidangan. Hidangan upacara kematian berupa sam seng terdiri dari daging dan minyak babi, ayam, darah babi, telur bebek –semua direbus—pun sudah diletakan dalam piring lonjong besar di atas meja.

Cayma sudah meminta mereka untuk menyembah dan berlutut di depan peti mati Papa, lalu mengikutinya untuk mengintari peti mati itu sambil berjongkok dan terus menangis. Mei Lan berusaha tenang, terutama melihat Mama yang terlihat tak cemas sama sekali.

Dada Mei Lan bergemuruh ketika usai melakukan penghormatan terakhir dan melihat Gina yang berdiri di depan peti mati Papa. Gina yang memegang foto dan hoe. Beberapa kerabat menatap Mama, tetapi Mama seakan tak melihat tatapan mereka. A Feng perlahan tersenyum ke arah Mei Lan.

Saat peti mati Papa diangkat, sebuah semangka dibanting ke lantai hingga pecah. Itulah tanda kehidupan Papa di dunia fana telah usai. Hoe di tangan Gina berkibar-kibar, seakan penanda bila kehidupannya dan A Feng baru saja dimulai. 

[1] Bendera kertas warna putih bertuliskan aksara Cina di atas sebilah bambu

Cerpen "Kebohongan itu Manis, Vardhazh"


Indra Trenggano

Seluruh rakyat republik Garpallo sangat yakin, Presiden Grag-Gaz telah mati. Di layar televisi, rakyat menyaksikan peti jenazah Presiden Grag-Gaz diturunkan ke liang lahat diiringi musik dan tembakan salvo, sebelum akhirnya ditimbun tanah.

KAMERA televisi juga menyapa wajah-wajah istri, anak, menantu, sanak keluarga Presiden Grag, pejabat-pejabat tinggi, duta-duta besar berbagai negara, para konglomerat, tokoh-tokoh agama, politisi, akademisi, seniman, militer, dan pelayat lainnya yang menyiratkan duka mendalam.

"Sungguh... negeri ini sangat kehilangan putra terbaik bangsa. Tuan Grag-Gaz telah membawa menuju horizon cahaya," kata Sarvantina Tunner, Ketua Majelis Tinggi Perwakilan Rakyat Republik Garpallo, di akhir pidato sambutannya.

***

Ilustrasi karya I Ketut "Kabul" Suasana
Kompleks Taman Makam Pahlawan seluas sepuluh hektar itu disulap menjadi arena yang penuh warna. Terpampang baliho-baliho besar yang memasang wajah tampan Presiden Grag serta berbagai kegiatan sosialnya, foto empat istrinya, 25 anaknya, 25 menantunya, dan puluhan cucunya. Semua foto itu tidak dicetak tapi dilukis oleh belasan maestro.

Di beberapa tempat ada kemah-kemah yang dijaga perempuan-perempuan cantik yang siap melayani berbagai permintaan makanan dan minuman. Ada juga kemah besar yang memajang seluruh memorabilia sang presiden, misalnya album sejarah yang menggambarkan perjalanan kariernya, sejak ia mahasiswa, terjun di partai politik, jadi tokoh oposisi, jadi ketua partai, dan jadi presiden.

Istri keempat Tuan Grag, Nyonya Zabathini yang berusia sekitar 35 tahun dan cantik itu, kepada para wartawan bilang bahwa pihak keluarga harus memenuhi pesan dari suaminya agar membuat pesta ketika Tuan Grag meninggal. "Kematian harus dirayakan karena kematian adalah kemenangan mengatasi waktu menuju keabadian, begitu kata Tuan Grag saat beliau selesai menjalani operasi jantung yang ternyata gagal...," ucap Nyonya Zabathini terisak.

Berbagai medi massa cetak dan elektronik mencatat bahwa upacara kematian Tuan Grag adalah upacara paling besar dan sukses dalam sejarah meninggalnya tokoh-tokoh penting negeri Garpallo. Tempat pemakaman telah berubah jadi arena pesta dan bazar. Tercatat sekitar hampir dua juta orang melayat, 500.007 karangan bunga, omzet pedagang kali lima mencapai 600 ribu dollar, dan omzet parkir kendaraan menjadi 200 ribu dollar.

***

Entah siapa yang menggerakkan mendadak muncul gelombang demonstrasi mahasiswa.Ratusan ribu massa meluberi Grag-Gaz Square. Bendera-bendera berkibar-kibar. Poster-poster menyala. Mereka menuntut seluruh harta Tuan Grag disita. "Selama 25 tahun Presiden Grag berkuasa, negara telah dirugikan sebesar 800 miliar dollar!!" teriak anak muda dengan pita merah terbebat di kepala.

Vardhazh, presiden pengganti Tuan Grag, telah memerintahkan Menteri Pertahanan Gargano Zappulato untuk melibas aksi mahasiswa. Jaksa Agung Valoe Bessy pun telah ditugaskan untuk menutup pengusutan kasus dugaan korupsi Tuan Grag.

"Tuan Grag itu junjungan kita semua. Tidak elok kita mencari-cari kesalahan beliau. Dan kalau toh beliau ini bersalah, maka aku sudah mengampuni sebelum dimohon. Bangsa yang berbudi luhur adalah bangsa yang mau memberi maaf sebelum diminta," kata Vardhazh dalam jumpa pers di istana negara.

Para demonstran semakin merangsek. Namun, orang-orang berseragam dan berwajah garang menghalau mereka. Terjadi baku hantam. Banyak orang luka. Berdarah. Para demonstran tak menyerah, namun tembakan gas air mata membuat mereka lari lintang pukang.

"Saya tidak suka anarki! Kepada adik-adik mahasiswa saya pesan, hentikan semua hujatan dan makian jika kalian tidak ingin bobok manis di sel tahanan," ujar Vardhazh.

***

Vardhazh disertai para pengawal bersenjata lengkap, melaju dengan mobilnya menuju vila di Bukit Sutra. Bukit ini sering disebut orang sebagai bukit pengampunan yang dipilih para penguasa untuk istirahat dan merenung.

Kehadiran Vardhazh memecah sunyi tafakur seorang laki-laki gagah yang bersimpuh di atas karpet. Laki-laki itu memberi isyarat melalui pandangan matanya. Vardhazh pun duduk di kursi agak jauh dari posisi laki-laki gagah itu. Beberapa saat kemudian, laki-laki gagah itu beranjak dan menemui dan memeluk Vardhazh erat-erat.

"Tuan Grag...," ucap Vardhazh spontan.

"Sssstttt... jangan keras-keras...," ucap laki-laki tambun itu lirih.

"Maafkan saya Tuan...."

"Bagaimana perkembangan keadaan, Tuan Presiden Vardhazh?"

"Tuan Grag jangan mengolok-olok saya. Saya tak lebih dari pembantu Tuan...."

"Riil, kamu ini presiden, boy. Kenapa masih gamang? Aku memang sengaja memilihmu untuk menggantikan aku melalui sidang Majelis Tinggi.Oya, apa yang bisa kamu laporkan, Vardhazh?"

"Rakyat percaya bahwa Tuan telah mati. Ya, mereka sangat yakin bahwa Tuan Grag ada di dalam peti mati yang dimaskkan dalam liang lahat dalam pemakaman itu. Sungguh, ini teater paling sempurna dan ajaib."

"Begitulah yang kuinginkan. Begitulah yang terjadi.Oo ya, aku sangat terkesan dengan pernyataanmu dalam jumpa pers bahwa setiap hari aku hanya makan kentang, ikan asin, dan kecap. Kamu pintar mengambil hati rakyat...."

"Maafkan saya Tuan... maafkan. Saya telah berbohong...."

"Itu kebohongan yang manis, Vardhazh... Sangat manis... Begitulah seharusnya. Seorang penguasa harus pintar beternak kebohongan. Hanya dengan menanam kebohongan di mulut, orang macam kit abisa bertahan."

"Benar, Tuan. Semua itu seperti yang pernah saya baca dalam buku Kebohongan yang Sopan yang Tuan tulis."

"Kamu telah tuntas membacanya?"

"Bukankah itu bacaan wajib bagi seluruh kader partai kita, Tuan?"

Tuan Grag tersenyum. "Berarti kamu sudah menyerap sari pati kebohongan. Ini tak ada hubungannya dengan dosa atau apa.... Yang harus kamu tahu, rakyat selalu kecanduan untuk dibohongi."

"Ooo tentu, Tuan.... Dalam soal kebohongan Tuan adalah maestronya. Aduh maaf Tuan, maaf...."

"No problem, boy. Itu predikat yang elegan. Maestro kebohongan. Dan aku suka," Tuan Grag tertawa.

Ketegangan yang sempat dirasakan Vardhazh langsung mengendor. Suasana pun cair. Vardahzh mengusap keringat di keningnya dengan tisu basah.

"Di balik kebohongan ada tambang emas yang tak pernah habis dikuras. Tapi ingat, kebohongan butuh konsistensi dan keyakinan untuk menjadi kebenaran."

Kepala Vardhazh mengangguk-angguk seperti mesin.

"Kamu telah melihat sendiri bagaimana aku mementaskan sandiwara kematianku. Aku susun skenarionya sendiri. Aku jadi sutradaranya sekaligus produsernya. Aku rekrut para profesioal dari direktur rumah sakit, dokter-dokter spesialis, pers, ahli rias, dan busana hingga para jenderal dan event organizer," ujar Tuan Grag sambil menuangkan anggur merah di gelas.

"Tuan tidak khawatir rahasia ini bocor?"

"Kekhawatiran itu tetap ada meskipun aku sudah melenyapkan para profesional yang terlibat dalam proyek besar sandiwara kematianku. Oya, aku punya ide. Aku akan operasi wajah. Semua sudah siap. Minggu depan kulaksanakan."

"Tuan memang hebat. Cerdas."

"Aku masih bingung menentukan bentuk dan rupa wajahku nanti.... Ada usul? Yang penting jangan mirip wajah aktor opera sabun."

"Bagaimana kalau hidung tuan dibikin lebih mancung dan mata Tuan dibikin lebih lebar?"

"Ah itu mirip tukang jual obat di Golden Park. Dan lagi, hidung saya kan sudah mancung. Mosok saya harus mirip Pinokio? Boy, aku ingin wajahku berubah total. Misalnya mirip wajah seorang rabi atau orang-orang suci."

Vardahzh disergap rasa heran. Tapi hanya diam. Tuan Grag tampak berpikir keras.

"Bagaimana jika wajahmu saja yang kupinjam untuk dijadikan model? Wajahmu polos. Tak ada aura kejahatan. Bagaimana?"

Vardahzh tersengat. Dadanya sesak. Jantungnya berdetak cepat. "Barangkali Tuan bisa mencari model wajah yang lain...," ujar Vardahzh gugup.

Tuan Grag menggeleng. "Aku ingin jadi dirimu. Aku ingin ikut mengendalikan pemerintahan di negara kita. Kamu keberatan?"

Darah Vardahzh berdesir. "Tentu tidak, Tuan...."

"Bagus. Aku harus menjadi presiden lagi dengan meminjam wajahmu! Oke, boy?"

Dada Vardahzh terasa semakin sesak. Mendadak ia tumbang. Tuan Grag tersenyum.

Operasi wajah Tuan Grag berjalan lancar dan hasilnya sempurna. Wajah Tuan Grag kini sama persis dengan wajah Vardazh, bahkan hingga jumlah pori-pori atau kerut-merutnya. 

Dengan wajah Vardahzh kini Tuan Grag tampil dalam berbagai acara kenegaraan. Ia pun kembali menguasai parlemen, kejaksaan, kehakiman, sektor pajak, sektor migas, anggaran belanja negara, dan lainnya. Namun, rakyat tetap yakin bahwa orang yang memimpin Republik Garpallo saat ini tetaplah Vardhazh yang menggantikan Grag-Gaz yang sudah meninggal enam bulan lalu. Nasib Vardhazh sendiri tidak jelas. Soal ini, hanya keluarga Vardahzh yang tahu.

***

Setiap hari terjadi demonstrasi. Rakyat tidak puas pada kepemimpinan "Vardhazh" yang dianggap korup. Rakyat merindukan kembalinya kekuatan politik Grag-Gaz untuk mengendalikan Republik Garpallp. Mereka pun kini semakin yakin bahwa mantan Presiden Grag-Gaz sangat bersih. Maka, skenarion pengganti "Vardhazh" pun telah disiapkan Tuan Grag. Nyonya Zabhatini, istri keempat Tuan Grag, telah dipilih untuk menjadi presiden.

Cerpen "S A I A"


Djenar Maesa Ayu

Ia membawa lari ingatan saya lagi. Entah di mana kali ini Ia bersembunyi. Yang saya tahu kepiawaian Ia mencari tempat persembunyian makin hebat saja dari hari ke hari. Jadi pasti akan sulit sekali mencarinya kali ini.

Kami teman semasa kecil. Bisa dibilang, Ia adalah satu-satunya teman yang saya miliki sebagai anak yang merasa terkucil. Di sekolah, saya lebih sering menghabiskan waktu di dalam kelas mengerjakan pekerjaan rumah ketimbang bermain bola bekel, kelereng, atau ngobrol di kantin sekolah yang mungil. Bukan karena tak mau, tapi karena saya malas ditanyai berbagai macam hal yang sering membuat telinga panas bagai habis disentil.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya datang dari murid-murid, tapi juga dari para guru. Pertanyaan semisal, mengapa sekitar mata saya biru. Atau, mengapa saya berjalan pincang dengan kaki satu. Saya menjawab jika habis terbentur pintu. Atau, jatuh dari tangga karena terburu-buru. Semudah itu. Tapi tatap tak percaya yang tersirat di dalam mata merekalah yang mengganggu. Saya malu.

Saya jadi malas sekali ke sekolah. Tapi saya lebih malas lagi di rumah. Saya malas ketemu Ibu dan Ayah. Setiap bersama, selalu saja mereka saling melempar amarah. Dan kalau pertengkaran mereka tak selesai, selalu saja ada tindakan saya yang dianggap salah.

Mereka pun menghukum saya tanpa belas kasihan. Bergantian melemparkan caci makian. Bersamaan melayangkan tamparan demi tamparan. Juga tonjokan. Tak terkecuali tendangan. Mereka tak peduli walau saya sudah menangis minta ampun dan merintih kesakitan. Sepertinya, hanya saat menghukum saya itulah pendapat mereka tak lagi berseberangan. Mereka yang semula bagai anjing dan kucing, tiba-tiba berubah bak teman seperkutuan.

Dalam keadaan seperti itulah biasanya Ia muncul dan mengajak bermain petak-umpet. Membuat saya sibuk mencari hingga lupa rasa sakit di kulit yang sedang disabet. Saya berlari mencari Ia sambil berteriak, “Hei, salah saya apa?!” Sungguh, ingatan saya pun raib Ia bawa entah kemana. Saya mencari di bawah meja. Di balik jendela. Di dalam kamar mandi. Di bawah kursi. Di taman belakang. Sampai-sampai ke depan pintu gerbang. Tapi permainan petak-umpet itu pun terasa lebih sulit karena Ibu dan Ayah mengejar saya dan menyeret kembali ke dalam rumah.

“Masih berani tanya salahnya apa?! Anak ga tau diri!

Saya pun kembali dihajar dengan tenaga yang tak lemah. Mereka baru berhenti jika sadar kalau luka maupun memar di tubuh saya sudah terlihat parah.

“Kalau ditanya, bilang kejeduk pintu.” Kata Ibu sambil mengompres mata saya dengan es batu.

“Bilang kamu jatuh dari tangga karena terburu-buru.” Kata Ayah sambil mengurut pergelangan kaki saya yang membiru.

“Ingat ya, semua ini salahmu!” Kata Ibu sambil mematikan lampu.

“Awas kalau ngomong yang ga bener ke orang-orang yang ga perlu.” Kata Ayah sebelum menutup pintu.

Gulita menyergap kamar. Satu-satunya penerangan di dalam kegelapan itu hanya berasal dari mata saya yang berbinar-binar. Dengan penuh semangat, saya mencari kembali tempat persembunyian Ia yang sudah sejak tadi saya incar. Di dasar pot bunga mawar. Di bawah jok kursi bundar. Di tumpukan buku. Di gantungan baju. Di balik selimut warna merah dadu. Sampai akhirnya saya menemukan Ia meringkuk sambil memeluk erat ingatan di dalam sepatu.

Saya segera merebut ingatan dari pelukan Ia yang terlihat sudah lelah. Saya pun segera ingat jika tadi sebenarnya sudah melepaskan sepatu sebelum masuk ke dalam rumah. Tapi saya memang lupa menaruhkannya ke dalam rak karena terlampau bersemangat dengan apa yang terjadi di sekolah. Lagi-lagi, saya mendapat nilai tertinggi dalam pelajaran Seni, Bahasa, dan Sejarah.

Celakanya, saya berada di sebuah tempat dan bersama orang yang salah. Ketika membuka pintu, pemandangan yang pertama kali saya lihat adalah Ibu dan Ayah sedang saling melempar sumpah serapah. Tapi di dalam pertengkaran separah itu saja, mata Ibu yang lebih gesit dari pesilat tetap bisa melihat kesalahan saya dengan mudah.

“Kenapa sepatu kamu masih ada di depan pintu?!”

Saya membisu.

“Kamu lupa taruh lagi di rak sepatu?!”

Bibir saya kelu.

“Kalo ditanya, jawab!”

Mulut saya gagu.

“Kenapa ga bisa jawab?! Malu kan kamu, sadar kan kamu kalo yang kita minta itu sebenernya ga susah?! Tau ga kamu, Ibu dulu itu boro-boro punya sepatu!”

“Boro-boro sepatu, Ayah dulu perlu seragam baru aja mesti nunggu bertahun-tahun. Ga kayak kamu, apa aja yang diperlu tinggal minta!”

“Begini nih anak sekarang, Pah. Ga ngerti susahnya hidup!”

“Bener Mah, ga bisa ngehargain apa yang dipunya. Ga tau gimana susahnya orang tua nyari duit!”

Tubuh saya beku.

Entah siapa yang menempeleng wajah saya lebih dulu. Entah siapa yang menjambak rambut hingga saya terjungkal setelah itu. Saat itu terjadi, Ia sudah keburu mengajak saya bermain petak-umpet. Saya terlampau asyik bermain hingga suara teriakan Ayah dan Ibu terdengar tak lebih dari suara klakson kendaraan di jalan raya yang sedang macet. Tak terasa juga tubuh saya yang diseret, lalu digeletakkan di atas karpet.

“Cepat ambil es batu, Mah!”

“Urut pergelangan kakinya, Pah!”

“Apa salah kita jadi orang tua ya? Kok punya anak nakal begini?”

“Kalau orang ga tau kejadian sebenarnya, pasti kita yang disalahin lagi.”

Saya melihat kelebat tubuh Ia berlari sambil memeluk ingatan dan mencari tempat sembunyi. Membuat saya berharap Ibu dan Ayah lebih cepat pergi. Saya hanya ingin main lagi. Maka betapa bahagianya saya saat mendengar mereka keluar kamar dan menyalakan televisi.

Sambil mencari tempat persembunyian Ia, sayup-sayup saya dengar siaran berita yang sedang Ibu dan Ayah saksikan di televisi. Seorang anak sembilan tahun diperkosa ayahnya sendiri. Bocah laki-laki disodomi lalu dimutilasi. Pengakuan seoarang Ibu di Kantor Polisi karena telah menyiksa bayinya sampai mati karena tak tahan mendengar tangisannya sepanjang hari. Seorang kakek meniduri cucunya sendiri hingga hamil dan bunuh diri. Seorang anak perempuan dituntut hukuman mati karena terbukti secara terencana membunuh kedua orang-
tuanya saat sedang tertidur di depan televisi.

Ia membawa lari ingatan saya lagi. Entah di mana kali ini Ia bersembunyi. Yang saya tahu kepiawaian Ia mencari tempat persembunyian makin hebat saja dari hari ke hari. Jadi pasti akan sulit sekali mencarinya kali ini.

Ia duduk dengan tenang di atas kursi pesakitan ruang pengadilan saat Jaksa Penuntut Umum memperlihatkan barang bukti sebuah tongkat pemukul bisbol, seragam sekolah, dan sepasang sepatu yang berlumuran darah. Saya masih main petak-umpet di rumah.


Cerpen "Joyeux Anniversaire*"


Tenni Purwanti 

Sepanjang hari ini aku menyiapkan semuanya. Aku telah memesan kamar hotel penthouse dengan pemandangan mengarah ke pusat kota Paris. Saat malam nanti, lampu-lampu kota akan tampak gemerlapan dari atas sini, menghujaniku dengan cahaya-cahaya kecil seperti kunang-kunang di Indonesia saat kanak-kanak dulu. Aku telah meminjam pemutar musik dan piringan hitam dari koleksi barang antik milik ayahku, untuk menambah suasana romantis dan klasik di kamar ini.

Aku juga telah memesan busana haute couture lengkap dengan dance heels-nya dari desainer ternama di Indonesia. Ia membawakan pesananku saat akan menghadiri Paris Fashion Week, seminggu lalu. Busana mewah ini juga diperagakan di acara itu, tapi ia tak akan memproduksi yang serupa lagi. Busana ini hanya milikku seorang.

Sejak pagi tadi aku sudah melakukan perawatan di salon yang dimiliki hotel ini. Seluruh tubuh, mulai dari hair spa, manicure, pedicure, lulur dan pijat, lalu sauna. Setelah itu wajahku didandani, rambutku ditata dengan model braided updo hairstyle agar rambut panjangku tidak menghalangi keindahan gaun haute couture yang kukenakan.

Sedangkan red wine yang kubawa adalah RomanÉe-Conti. Red wine termahal di dunia. Aku meminta satu botol dari koleksi wine ayahku.

Senja mulai mengintip malu-malu. Aku sudah memesan makan malam kepada petugas hotel. Mereka akan membawakannya ke kamar ini jika dia sudah datang. Lalu kami akan makan malam romantis dengan cahaya lilin, dengan jendela kamar terbuka. Agar hanya pemandangan Paris di malam hari saja yang terlihat. Agar kami berdua bisa makan sambil memandangi Eiffel. Lalu menyesap red wine sambil membicarakan cinta.

Setelah itu, lampu-lampu tidur dinyalakan, lilin dimatikan, agar suasana kamar redup dan kami bisa berdansa dalam alunan musik dansa klasik. Lalu kami akan berciuman lembut, lebih lembut dari siapa pun yang pernah jatuh cinta.

Jam 7 malam.

Jam 8 malam.

Jam 9 malam.

Denting jam dinding bersamaan dengan telepon yang berdering. Kukira dari dia, tapi ternyata petugas hotel yang menanyakan apakah makan malam pesananku jadi diantarkan. Jam makan malam sudah lewat dua jam. Akhirnya kuminta diantarkan saja. Meski aku tak nafsu lagi memakannya.

Hanya beberapa menit kemudian petugas hotel datang dan menata meja di sudut jendela kamar sesuai pesananku. Beberapa kali mereka melirik melihatku. Sekilas aku memang merasa mirip Marie Antoinette, Ratu Perancis tahun 1774 sampai 1792. Masa kecilku memang dihiasi kisah tentang Marie Antoinette dalam komik dan kartun Lady Oscar, yang anehnya ditulis oleh penulis Jepang. Aku menyukai penampilan Ratu Perancis kelahiran Austria itu dan berharap suatu hari bisa berdandan sepertinya. Malam ini sudah kuwujudkan.

Setelah memberi tip, petugas hotel tak lagi berani menelisik penampilanku. Mereka pamit usai tugasnya selesai.

Satu jam kemudian….

Aku tidak percaya dia terlambat. Lebih tidak percaya lagi jika dia benar-benar tidak jadi datang. Ponselnya mati. Menyapanya dari semua fasilitas chatting pun tidak berbalas. Di zaman modern dengan segala perlengkapan canggih seperti sekarang ini, mengapa bisa begini sulit menghubungi seseorang?

Aku meminum wine untuk menenangkan diri. Dari banyak artikel kesehatan yang kubaca, meminum red wine secara moderat dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Tapi mungkin dengan baru satu kali minum tak akan sanggup menahan serangannya.

Satu gelas.

Dua gelas.

Tiga gelas. 

Jam dinding berdentang 12 kali. Jantungku sakit sekali.



Jam 12 malam. Aku datang tepat waktu. Hari ini usiaku bertambah. Tidak ada yang berubah. Aku masih laki-laki single yang begitu mencintai malam. Sehingga aku bahagia sekali bisa mendapatkan pekerjaan di rumah sakit jiwa ini, sebagai petugas jaga malam. Aku bertugas enam hari dalam seminggu, setiap jam 12 malam sampai jam 8 pagi. Kebetulan tahun lalu aku pun diterima di sini saat hari ulang tahun. Jadi aku bisa mudah menghitung berapa lama aku bekerja di tempat ini. Sudah satu tahun. Tapi enam bulan terakhir, aku punya kebiasaan baru setiap kali datang: mengunjungi sebuah kamar khusus yang dihuni seorang pasien perempuan.

Untuk sampai ke kamarnya, aku harus melewati kamar-kamar lain yang berisi orang sakit jiwa dengan berbagai alasan. Ada yang karena rugi besar setelah usahanya gagal. Ada pula yang masuk ke sini karena stres, kalah dalam pemilihan calon anggota legislatif. Ada pula seorang ibu yang keguguran, padahal telah menunggu kehamilan bertahun-tahun. Setiap hari ada saja yang masuk ke sini. Mengapa orang sakit jiwa semakin banyak di Bandung?

Aku mengintipnya dari jendela yang dihiasi jeruji besi. Ia sedang berdansa, sendirian. Sejak perempuan itu datang, ia selalu berdansa setiap jam 12 malam. Aneh, padahal tidak ada jam di kamarnya. Lalu pagi harinya ia akan mengamuk. Memukuli dinding dan tempat tidurnya sendiri, berteriak-teriak. Aku yang selalu bertugas menyuntikkan obat penenang di lengannya dan ia akan tertidur pulas. Lalu aku pulang karena jam kerjaku usai. Begitu seterusnya setiap hari. Aku tak tahu apa yang dilakukannya sepanjang hari sampai tiba jam 12 malam lagi dan ia kembali menari, dengan dirinya sendiri.

Malam ini, aku begitu ingin berdansa dengannya. Aku membawa laptop dengan playlist yang sudah kusiapkan. Tahun 2011 aku begitu menggemari film W.E. yang dibuat oleh Madonna, sampai-sampai aku membeli semua original soundtrack-nya dari iTunes. Malam ini, musik instrumen yang dibuat khusus oleh Abel Korzeniowski itu akan mengiringi pengalaman gilaku, berdansa dengan pasien rumah sakit jiwa.

ZÉphirine Drouhin nama gadis itu. Lahir di Indonesia dan besar di Paris. Anak seorang importir parfum ternama dari Paris. Ibunya asli Paris dan ayahnya asli Bandung. Pantas ia cantik sekali. Darah Eropa-Sunda mengalir dalam tubuhnya. Ia ditempatkan di kamar khusus atas permintaan orangtuanya agar tak ada kolega yang tahu tentang kondisinya. Belakangan baru kutahu, namanya diambil dari nama bunga mawar merambat yang banyak tumbuh di Eropa. Kata petugas jaga perempuan, ZÉphirine stres karena mencintai seorang penyair yang sudah punya istri dan anak.

Aku masuk ke kamarnya saat ia sudah mulai berdansa. Langkahnya tidak berhenti. Ia terus berdansa, entah dengan siapa di dalam kepalanya.
Aku menyalakan laptop dan mulai
memutar judul ”Dance for Me Wallis”. Aku meraih tangannya. Ia tidak mengelak. Sebetulnya aku tak pernah berdansa selama ini sehingga beberapa kali aku hampir menginjak kakinya. Mungkin ia dulunya seorang penari balet, atau ayahnya sering mengadakan pesta dansa, sehingga tangan dan kaki ZÉphirine lentur sekali. Tubuhnya mengikuti alunan musik meski matanya kosong.

Ia tidak melihatku, ia tidak menyadari keberadaanku. Ia pasti sedang berdansa dengan lelaki yang ada di kepalanya. Sepanjang musik mengalun, aku menikmati keindahan wajahnya yang memiliki bercak-bercak merah khas gadis Eropa. Tubuhnya lebih tinggi dariku, rambutnya panjang sebahu, berwarna merah burgundy, keriting, dan berantakan. Giginya rata, bersih, padahal selama di sini ia jarang mandi, apalagi gosok gigi. Di antara semua judul, ”Dance for Me Wallis” ini paling menyayat hati. Lagu itu menjadi semakin sendu dalam gerakan dansa kami. Cinta seperti apa yang membuatmu seperti ini, ZÉphirine?

Tiba-tiba air matanya mengalir di tengah lagu, tapi ia tetap berdansa. Pandangan matanya masih kosong. Ia menangis tanpa isak. Berdansa … dan terus berdansa. Saat aku menaikkan tanganku (seperti yang pernah kulihat dalam film), ia pun berputar di bawah tanganku. Setelah itu aku mengangkat tubuhnya dan aku pun memutar tubuhnya hingga melayang di udara. Perut kami saja yang saling menempel, sementara tangan kiriku di pinggangnya dan tangan kananku menggenggam tangan kanannya. Adegan yang hanya beberapa detik itu, jika saja terjadi di ballroom hotel mewah, tentu akan sangat indah. Mungkin itu yang ada di kepalanya.

Setelah kelelahan karena mulai berkeringat, aku melepaskan tangannya dan berhenti berdansa. Ternyata ia tetap menggenggam tanganku meski matanya tetap tidak melihat ke arahku. Ia menarik tanganku ke atas tempat tidurnya. Aku mengikutinya, menaikkan tubuhnya ke ranjang, lalu menyelimuti tubuh itu. ZÉphirine langsung menutup matanya dan terlelap. Aku kembali ke ruanganku.

Ternyata esok paginya ia tidak mengamuk, padahal aku sudah menyiapkan obat penenang. Saat aku datang, ZÉphirine sudah bangun. Aku coba ke dapur umum dan membawakannya makan pagi. Ternyata ia mau disuapi olehku. Saat makan itulah pertama kalinya ia menatapku. Ia memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki, menyusuri tubuhku pelan sekali, dengan matanya. Sambil terus menerima suapanku, ia mengunyah sambil melirik pelan ke arah wajahku. ZÉphirine sekali lagi melihat mataku. Meski tatapannya masih saja kosong, tapi ia sudah tahu aku ada.

Begitu seterusnya setiap malam dan pagi. Kini aku punya seseorang yang kurawat sepenuh hati, bukan hanya karena aku dibayar untuk bekerja di tempat ini. Meski mungkin aku hanya pengganti seorang lelaki di kepalanya, yang membuatnya tergila-gila sampai betulan gila. Tapi dengan begini saja sudah membuatku bahagia.

Aku pun mencari tahu kapan ulang tahunnya. Di malam menjelang pergantian usianya, aku membawakan ZÉphirine sebuah gaun yang kubeli dari tabunganku selama bekerja di sini. Aku mengganti piyamanya dengan gaun itu, lalu menyisir rambutnya yang kusut. Sebelum kami berdansa, aku bisikkan sesuatu di telinganya.

”Joyeux anniversaire, ZÉphirine.”

”Merci … Adi …”

Itulah kali pertama ku lihat ZÉphirine tersenyum. Manis sekali. Lalu ia memelukku erat, sambil menangis. Sepertinya bukan tangis duka, tapi haru. Mungkin kerinduannya sudah berakhir.

Tapi namaku Elang…

*) Selamat ulang tahun dalam bahasa Perancis