Senin, 06 Februari 2017

Cerpen "Kumbang Hitam di Teras Rumah"


Adie Sapar Sudradjat

Esih sedang menyapu lantai teras rumah kontrakannya. Di musim kemarau seperti ini, debu-debu yang terbang terbawa angin lebih sering mampir ke teras rumahnya. Maklum saja, rumah kontrakannya yang kecil itu tepat di pinggir jalan kampung yang sering dilewati truk-truk pengangkut pasir. Jalan tersebut tak beraspal. Bila musim hujan, jalan itu penuh genangan air dan berlumpur, tetapi lain cerita di musim kemarau, jalan itu akan sangat berdebu bila dilewati oleh kendaraan. Seperti siang ini, Esih cukup kesal karena debu semakin tebal menempel di teras rumahnya. Bukan hanya di lantai, bahkan tumbuhan-tumbuhan kecil dalam pot yang sengaja di tanam Esih, daunnya sudah tak hijau. Daun kuping gajahnya berubah kecoklatan tertutup debu jalanan, begitupun daun suplir, daun kumis kucing, dan mamangkokan1.
Cuaca siang yang panas tidak menghentikan aktivitas Esih untuk tetap menyapu. Wajahnya terpapar sinar matahari. Ia berkeringat, tetapi hal itu tak mampu melunturkan kecantikkannya. Esih merupakan perempuan tercantik di kampung itu. Tak ada perempuan yang mampu menandingi kecantikan parasnya dan kemolekan tubuhnya. Oleh karena itu, Koswara mengajak Esih untuk menjadi ronggeng di Sanggar Seni Mayang miliknya.
Esih adalah ratu di antara ronggeng-ronggeng lainnya. Saat ia menari, para lelaki terbakar birahi. Ia merupakan magnet yang mempu menarik perhatian semua orang. Koswara bahkan mengakui semenjak Esih bergabung di sanggarnya, tawaran untuk mengisi acara hajatan2, upacara-upacara adat, dan kegiatan-kegiatan di instansi pemerintah semakin menderas.
Tetapi di balik keagungan Esih saat menjadi ronggeng, ia tetaplah gadis berusia 19 tahun yang sederhana. Seperti hari ini, saat tidak manggung ia hanya mengenakan kaos oblong longgar dan samping3 belel milik almarhumah ibunya.
“Padahal tadi pagi sudah dibersihkan, tapi debu-debu sialan itu berterbangan lagi ke teras ini,” gerutunya. Tangannya terus mengayun-ngayunkan sapu ijuknya, mendorong debu-debu di lantai ke luar. Tiba-tiba ada benda kecil berwarna hitam terbang mengelilinginya. “Apa itu?” gumamnya. Esih memperhatikan sejenak benda yang terbang itu. Matanya mengikuti arah terbang benda bersayap. Esih yakin benda yang terbang mengintarinya adalah serangga.
Apa itu tawon? Ia bertanya dalam hati. Ketika serangga itu mendekat, Esih refleks mengelak dengan mencondongkan badannya ke kanan. Beberapa menit kemudian serangga itu diam di lantai, tak lagi terbang. Esih memperhatikan, serangga hitam, tetapi bukan tawon, bukan kecoa, itu adalah kumbang. Ya, kumbang berwarna hitam.  
Dengan menggunakan sapu  ijuk,  ia menyingkirkan kumbang hitam itu. Ia sapu serangga kecil itu dan melemparkannya ke luar rumah. Kumbang itu hanya diam saat Esih menyapunya, lalu setelah berada di luar rumah kumbang itu terbang. Kini Esih tak lagi melihat kumbang hitam itu.
“Teh, teh Esih ada telepon dari Mang Engkos,” ia mendengar suara nyaring adik perempuannya dari dalam rumah. “Iya, tunggu sebentar,” Esih balas berteriak. Ia meletakkan gagang sapu lalu masuk ke dalam rumah. “Mana, Rin?” tanya Esih. “Ini teh, telepon dari Mang Engkos,” Rina, adik Esih, memberikan ponsel berwarna putih.
“Assalamualaikum, Mang.”
“Waalaikumsalam” jawab Koswara. “Esih, lusa kita akan manggung di acara khitanan cucunya Haji Sobara,” sambungnya
“Insyaallah, Mang, Esih siap.”
“Ya, sudah. Lusa emang jemput kamu ya, Sih”
“Iya, Mang, diantos4
“Sudah ya, Sih. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”
Telepon dari Koswara ditutup, Esih memberikan kembali telepon genggamnya pada Rina yang hobi bermain game di ponsel Esih.
“Mau manggung lagi ya, Teh?” tanya Rina
Esih menatap adikknya yang baru berumur 15 tahun itu. “Iya, alhamdulillah, mudah-mudahan teteh dapat rezeki yang agak banyak. Sudah sebulan kita tidak membawa bapak kontrol ke rumah sakit.” Mata Esih nampak berkaca-kaca mengingat bapaknya yang sudah satu tahun ini terbaring di kamar saja karena serangan stroke. Tubuh bapaknya lumpuh dan tak mampu mencari nafkah lagi.
Untunglah, Koswara, pamannya, berbaik hati mengajak Esih untuk menjadi ronggeng sehingga ia bisa menggantikan bapaknya untuk mencari nafkah. Awalnya, bapak Esih tidak setuju kalau Esih menjadi ronggeng, terlebih hubungan Bapaknya dengan Koswara tidak terlalu baik akibat perselisihan masa lalu di antara kakak beradik ini. Akan tetapi, ia pun tak mampu untuk menahan Esih karena ia sendiri pun tak bisa membiayai kehidupan kedua putrinya. Dengan berat hati, bapaknya mengizinkan Esih menjadi ronggeng.
Malam itu Esih tengah mencuci piring di dapur, lalu terdengar suara “Tok, tok, tok”. Rina menghampiri Esih ke dapur, “Teh, ada Kang Barkah, katanya mau ketemu sama teteh,” adiknya terlihat cemas karena tahu bahwa kakaknya pasti  tidak mau bertemu dengan Barkah. Seketika wajah kesal terlihat di raut muka Esih, tetapi ia berhasil menahan diri. “Ya, sudah, suruh masuk saja, Rin. Kamu tolong buatkan kopi buat Kang Barkah.”
Di hadapan Esih, Barkah duduk bersila. Lelaki berusia 35 tahun itu bertubuh tegap, tinggi, berkumis lebat dan kulitnya kecoklatan. Ia tersenyum melihat Esih, tetapi bukan senyum keramahan melainkan senyum penuh nafsu binatang.
“Ada apa akang ke sini?” tanya Esih ketus.
“Esih, bagaimana? Akang kan sudah kangen sama Esih,” jawab Barkah merayu, Esih merasa jijik, perutnya mual. Ia tak sudi sebenarnya bertemu dengan laki-laki beristri dan beranak dua ini. “Ini, ada oleh-oleh buat, Esih,” Barkah menyodorkan bungkusan kresek hitam. Esih tidak mengucapkan terima kasih, bahkan menerima bungkusannya saja tidak. Terpaksa Barkah meletakkan kembali martabak manis yang sengaja dibelinya.
Rina datang dari dapur dan membawa kopi untuk Barkah lalu kembali lagi ke dapur. “Sudah dua minggu akang tidak melihat Esih, akang benar-benar rindu,”
“Apa tidak kangen sama istri dan anak-anak akang di rumah?”
“Aduh, Esih itu beda dong, kalau sama Esih kangennya sampe ke ubun-ubun, he he he,”
Esih tidak menjawab, ia memalingkan wajah. Malam itu waktu terasa lambat berjalan. Esih yang sudah tidak betah menemani Barkah mulai gelisah. Di mata Esih, laki-laki di hadapannya tak lebih dari seorang supir truk yang terkenal sebagai pembuat onar, tukang mabuk, hobi jajan perempuan, dan tidak bertanggung jawab pada anak dan istrinya. Mana mungkin Esih sudi berbaik-baik kata pada orang semacam Barkah.
“Oh ya, Akang dengar Haji Sobara akan melaksanakan syukuran besar khitanan cucu pertamanya, pasti Esih diundang kan di acara itu,” kata Barkah, matanya berapi-api.
“Iya,” jawab Esih singkat.
“Akhirnya, akang bisa melihat Esih ngeronggeng lagi. Kalau Esih sudah menari halaaah akang bisa mabuk kepayang hahaha,”
Esih tidak berkata-kata. Tapi tampak dari matanya ia sudah benar-benar muak berbicara dengan lelaki ini.
“Maaf kang, sudah malam, Esih mau istirahat,” kata Esih tiba-tiba.
“Ya sudah, akang pamit, ini ada sekedarnya buat Esih,” Barkah menyodorkan uang 100 ribu rupiah kepada Esih. “Apa ini kang? Jangan, Esih tidak berhak menerimanya” tolak Esih.
“Tidak apa-apa, Esih, ambil saja buat biaya berobat bapak,”
“Tidak kang, tidak usah,  lebih baik akang kasih ke istri sama anak-anak akang saja di rumah” Esih mendorong tangan Barkah.
Barkah tersentak kaget, ia sedikit emosi,tetapi berhasil menguasai diri. “Baiklah kalau begitu akang pulang dulu,” tak ada senyum di wajah laki-laki itu.
Esih tahu Barkah pasti marah, tetapi ia tak sudi menerima uang dari lelaki itu.  Ia takut kalau itu menjadi budi yang harus dibalas Esih dikemudian hari.
Esih mengantar Barkah sampai teras rumah, dan laki-laki itu menghilang di ujung jalan berdebu yang gelap. Ketika Esih hendak kembali ke dalam rumah ia kaget ketika melihat kumbang-kumbang hitam berjumlah puluhan bertengger di lantai terasnya. Padahal tadi saat mengantar Barkah belum ada kumbang satu pun di lantai itu. Esih mengambil sapu, lalu ia menyapu kumbang-kumbang hitam itu. Beberapa ada yang tetap diam, dan beberapa terbang mengelilinginya. Ia kaget dan mengibaskan tangannya mengusir kumbang yang terbang. Akhirnya semua kumbang itu terbang ke luar rumahnya, dan teras rumahnya kembali normal. Esih menutup pintu. “Aneh sekali, kenapa kumbang-kumbang hitam itu semakin banyak dan berkumpul di teras,” Esih berkata dalam hati. Sebelum beranjak ke peraduannya ia menengok bapaknya. Lelaki separuh baya itu tengah tidur pulas, terdengar suara dengkuran yang agak keras.
***
Di atas peraduannnya Esih menatap atap rumahnya yang tak berlangit-langit. Kamarnya hanya diterangi lampu 5 watt yang cahanya remang-remang. Perempuan cantik itu melamun. Semenjak dirinya menadi ronggeng, hilir mudik laki-laki yang mendekatinya. Lebih-lebih ketika istri Koswara, Nyi Ratna, memasangkan susuk di kening Esih. Bahkan akhir-akhir ini, Barkah si supir truk, Iwan si mandor pasir, Narto pemilik warung kopi, dan Junaedi teman sepermainannya yang kini menjadi supir ojek lebih sering  mendekatinya. Tetapi tidak ada satu pun yang mampu menyentuh hati Esih. Tatapan mereka semua sama seperti semua laki-laki yang mendekatinya saat ia menari. Tatapan penuh nafsu birahi untuk menikmati keindahan tubuhnya. Walaupun ia ronggeng, ia masih memiliki harga diri. Dia tidak seperti kawan-kawannya sesama ronggeng yang mudah jatuh ke pelukan laki-laki yang sanggup membayar mereka. Esih masih menjaga kesuciannya.
Esih terbangun saat ada yang bergerak-gerak di pipinya. Gelitikan kecil yang membuatnya geli. Ia memegang pipinya lalu menyentuh benda kecil. Seketika bergidik tubuh Esih saat tangannya memegang kumbang hitam. Ia melempar binatang itu ke lantai. Kumbang itu berjalan tak tentu arah, tetapi tidak terbang.
“Kenapa, kumbang-kumbang ini?”
Esih melihat sekeliling kamarnya, ternyata kumbang hitam tidak hanya satu. Ada beberapa kumbang yang hinggap di dinding kamarnya, di atas lampu, bahkan bebarapa terbang di atap dan hinggap di genting. Esih merasa ngeri sendiri, ia beranjak dari kasur kapuknya dan berjalan keluar kamar. Ternyata di ruang tengah dan dapur, kumbang-kumbang hitam juga bertebangan dan beberapa berdiam di perabotan. Esih melihat ke teras dari jendela.
Alangkah terkejutnya saat melihat kumbang-kumbang hitam berkerumun di lantai teras, di daun-daun tanaman miliknya. Jumlahnya bukan puluhan, tapi ribuan. Terasnya seolah diiselimuti serangga-serangga kecil berwarna hitam itu. Esih berlari ke kamar bapaknya yang juga merupakan kamar adiknya. Ia membuka pintu dan melihat Rina masih terbaring pulas begitupun di kasur yang satunya lagi. Ayahnya masih tidur mendengkur. Akan tetapi, tak ada satu pun kumbang di kamar ini. Ia mengguncangkan tubuh adikknya agar bangun.
“Rin, bangun, bangun”
“Ya, ada apa teh?” jawab Rina dengan suara malas.
“Lihat keluar, yuk? Banyak sekali kumbang-kumbang hitam di rumah kita?”
“Kumbang hitam? Maksud teteh apa?”
“Cepet bangun, biar kamu bisa lihat sendiri,”
Esih menuntun Rina yang masih dalam keadaan ngantuk ke luar kamar.
Alangkah kagetnya Esih ketika melihat tak ada satu pun kumbang hitam di rumahnya. Ia berlari ke dapur, ke kamarnya, dan membuka pintu untuk melihat ke teras. Tak ada kumbang hitam, bahkan satu pun tidak ada. Esih tertegun. Apakah ia bermimpi?
“Ada apa teh, mana kumbangnya, Rina tidak melihat kumbang?” Rina bertanya pada kakaknya yang nampak kebingungan.
Kenapa semua kumbang itu tiba-tiba hilang? Apakah mereka semua telah pergi, terbang meninggalkan rumah ini? Esih bertanya-tanya dalam hati.
“Tadi kumbang-kumbang hitam itu memenuhi dan bertebangan di rumah kita, tapi sekarang mereka sudah tidak ada,”
“Teteh tadi bermimpi barangkali,” kata Rina.
“Ya, sudah, memang barangkali teteh bermimpi. Jangan tidur lagi, bergegas mandi. Kamu kan harus sekolah,” ada nada sedikit kesal dalam suaranya.
“Teteh, kenapa sih?” .
“Tidak ada apa-apa. Udah mandi sana!”
Esih menatap Rina yang berbalik dan meninggalkannya ke kamar mandi. Sementara ia masih tertegun di depan pintu, masih tak percaya dengan kejadian yang baru dialaminya.
***
Esok harinya, Esih sudah bersiap di kamar yang disediakan keluarga Haji Sobara untuk para ronggeng. Ia berhias di depan cermin. Memulas wajahnya dengan bedak, mengoleskan gincu merah darah ke bibirnya yang manis. Namun, tiba-tiba sesuatu membentur cermin rias. Esih yang hanya berkutang hitam dan bersamping terkejut. Kumbang hitam menabrak cermin dan terjatuh tepat di hadapannya. Sesekali kumbang itu bergerak, lalu gerakannya semakin lambat kemudian diam sama sekali.
“Apa kumbang ini telah mati?” tanya Esih dalam hati.
Ia mengambil kumbang itu kemudian membaringkan di telapak tangannya. Kumbang itu telah mati. “Kenapa akhir-akhir ini kumbang hitam seakan menghantuiku?”  Lalu  Esih menggeggam serangga itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Tepat pukul 8 malam. Selesai berhias, Esih keluar kamar rias bergabung dengan kawan-kawan ronggeng yang lain. Ia adalah pemimpinnya. Aroma tubuhnya sewangi kembang tujuh rupa. Saat ia menari, tak ada mata yang berpaling. Sungguh memikat. Diterangi lampu-lampu terang benderang dan suara gamelan, Esih menari seperti bidadari. Laki-laki berebut ingin menari dengannya, menyawernya sampai duit mereka habis. Pinggulnya bergoyang membuat kaum adam semakin menggelepar. Esih menari dengan hati. Senyumnya begitu tulus, tetapi menggoda. Gerak tangannya nampak luwes dan anggun. Ia manari dikelilingi banyak lelaki. Ronggeng-ronggeng lain hanya menatapnya dengan iri karena saweran mereka tak akan sebanyak Esih.
Dua jam berlalu, Koswara meminta Esih beristirahat sejenak di kamar rias. Esih menerima saran Koswara,  ia melangkah perlahan meninggalkan riuhnya suasana. Ia membuka pintu kamar dan mengelap keringat di wajahnya. Esih menyimpan uang saweran di atas meja riasnya.  Mata Esih berbinar melihat saweran yang dia terima, “Alhamdulillah ada uang untuk berobat bapak,” Ia mulai menghitung sawerannya. 
Tiba-tiba pintu terbuka. Esih melihat lima laki-laki yang sangat ia kenali beringsut ke kamar yang sepi. Mereka menarik Esih, menahan, dan membantingnya ke kasur empuk itu. Esih menjerit, tetapi nyanyian Bangbung Hideung yang dinyanyikan sinden di luar rumah besar Haji Sobara membahana ke seluruh tempat sehingga jeritnya tak akan terdengar. Esih berontak tetapi semua percuma, sampingnya tersingkap,  kebayanya koyak. Tawa Barkah, Iwan, Narto, Junaedi, dan Haji Sobara bergema di atas tubuh Esih. Tak sia-sia, mereka, terutama Haji Sobara, membayar mahal pada Koswara. Lalu perempuan muda itu merasakan sakit, ia lemas, nafasnya berat, dan tiba-tiba pandangannya gelap.
***

Seketika bulan purnama memerah darah. Lalu angin meniup pucuk-pucuk pohon. Tak lama, sang dendam menjelma seekor kumbang hitam. Ia terbang melintasi keramaian pesta di rumah Haji Sobara. Kepakan sayapnya mengantarkan tubuh serangga itu menyusuri sawah yang gelap dan jalan tak beraspal yang sangat ia kenali. Kumbang hitam itu terbang rendah di sebuah rumah sederhana lalu bertengger di lantai teras berdebu, berharap ia dapat melihat wajah adik perempuan dan bapaknya yang sangat ia kasihi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar