Adie Sapar Sudradjat
Esih sedang menyapu lantai
teras rumah kontrakannya. Di musim kemarau seperti ini, debu-debu yang terbang
terbawa angin lebih sering mampir ke teras rumahnya. Maklum saja, rumah
kontrakannya yang kecil itu tepat di pinggir jalan kampung yang sering dilewati
truk-truk pengangkut pasir. Jalan tersebut tak beraspal. Bila musim hujan,
jalan itu penuh genangan air dan berlumpur, tetapi lain cerita di musim kemarau,
jalan itu akan sangat berdebu bila dilewati oleh kendaraan. Seperti siang ini,
Esih cukup kesal karena debu semakin tebal menempel di teras rumahnya. Bukan
hanya di lantai, bahkan tumbuhan-tumbuhan kecil dalam pot yang sengaja di tanam
Esih, daunnya sudah tak hijau. Daun kuping gajahnya berubah kecoklatan tertutup
debu jalanan, begitupun daun suplir, daun kumis kucing, dan mamangkokan1.
Cuaca siang yang panas
tidak menghentikan aktivitas Esih untuk tetap menyapu. Wajahnya terpapar sinar
matahari. Ia berkeringat, tetapi hal itu tak mampu melunturkan kecantikkannya.
Esih merupakan perempuan tercantik di kampung itu. Tak ada perempuan yang mampu
menandingi kecantikan parasnya dan kemolekan tubuhnya. Oleh karena itu, Koswara
mengajak Esih untuk menjadi ronggeng di Sanggar Seni Mayang miliknya.
Esih adalah ratu di antara
ronggeng-ronggeng lainnya. Saat ia menari, para lelaki terbakar birahi. Ia merupakan
magnet yang mempu menarik perhatian semua orang. Koswara bahkan mengakui
semenjak Esih bergabung di sanggarnya, tawaran untuk mengisi acara hajatan2, upacara-upacara
adat, dan kegiatan-kegiatan di instansi pemerintah semakin menderas.
Tetapi di balik keagungan
Esih saat menjadi ronggeng, ia tetaplah gadis berusia 19 tahun yang sederhana.
Seperti hari ini, saat tidak manggung ia hanya mengenakan kaos oblong longgar
dan samping3 belel milik
almarhumah ibunya.
“Padahal tadi pagi sudah
dibersihkan, tapi debu-debu sialan itu berterbangan lagi ke teras ini,”
gerutunya. Tangannya terus mengayun-ngayunkan sapu ijuknya, mendorong debu-debu
di lantai ke luar. Tiba-tiba ada benda kecil berwarna hitam terbang
mengelilinginya. “Apa itu?” gumamnya. Esih memperhatikan sejenak benda yang
terbang itu. Matanya mengikuti arah terbang benda bersayap. Esih yakin benda
yang terbang mengintarinya adalah serangga.
Apa itu tawon? Ia bertanya
dalam hati. Ketika serangga itu mendekat, Esih refleks mengelak dengan
mencondongkan badannya ke kanan. Beberapa menit kemudian serangga itu diam di
lantai, tak lagi terbang. Esih memperhatikan, serangga hitam, tetapi bukan
tawon, bukan kecoa, itu adalah kumbang. Ya, kumbang berwarna hitam.
Dengan menggunakan sapu ijuk, ia menyingkirkan kumbang hitam itu. Ia sapu
serangga kecil itu dan melemparkannya ke luar rumah. Kumbang itu hanya diam
saat Esih menyapunya, lalu setelah berada di luar rumah kumbang itu terbang.
Kini Esih tak lagi melihat kumbang hitam itu.
“Teh, teh Esih ada telepon
dari Mang Engkos,” ia mendengar suara nyaring adik perempuannya dari dalam
rumah. “Iya, tunggu sebentar,” Esih balas berteriak. Ia meletakkan gagang sapu
lalu masuk ke dalam rumah. “Mana, Rin?” tanya Esih. “Ini teh, telepon dari Mang
Engkos,” Rina, adik Esih, memberikan ponsel berwarna putih.
“Assalamualaikum, Mang.”
“Waalaikumsalam” jawab
Koswara. “Esih, lusa kita akan manggung di acara khitanan cucunya Haji Sobara,”
sambungnya
“Insyaallah, Mang, Esih
siap.”
“Ya, sudah. Lusa emang
jemput kamu ya, Sih”
“Iya, Mang, diantos4”
“Sudah ya, Sih.
Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam”
Telepon dari Koswara
ditutup, Esih memberikan kembali telepon genggamnya pada Rina yang hobi bermain
game di ponsel Esih.
“Mau manggung lagi ya,
Teh?” tanya Rina
Esih menatap adikknya yang
baru berumur 15 tahun itu. “Iya, alhamdulillah,
mudah-mudahan teteh dapat rezeki yang agak banyak. Sudah sebulan kita tidak
membawa bapak kontrol ke rumah sakit.” Mata Esih nampak berkaca-kaca mengingat
bapaknya yang sudah satu tahun ini terbaring di kamar saja karena serangan
stroke. Tubuh bapaknya lumpuh dan tak mampu mencari nafkah lagi.
Untunglah, Koswara,
pamannya, berbaik hati mengajak Esih untuk menjadi ronggeng sehingga ia bisa
menggantikan bapaknya untuk mencari nafkah. Awalnya, bapak Esih tidak setuju
kalau Esih menjadi ronggeng, terlebih hubungan Bapaknya dengan Koswara tidak
terlalu baik akibat perselisihan masa lalu di antara kakak beradik ini. Akan
tetapi, ia pun tak mampu untuk menahan Esih karena ia sendiri pun tak bisa
membiayai kehidupan kedua putrinya. Dengan berat hati, bapaknya mengizinkan
Esih menjadi ronggeng.
Malam itu Esih tengah
mencuci piring di dapur, lalu terdengar suara “Tok, tok, tok”. Rina menghampiri
Esih ke dapur, “Teh, ada Kang Barkah, katanya mau ketemu sama teteh,” adiknya
terlihat cemas karena tahu bahwa kakaknya pasti tidak mau bertemu dengan Barkah. Seketika
wajah kesal terlihat di raut muka Esih, tetapi ia berhasil menahan diri. “Ya,
sudah, suruh masuk saja, Rin. Kamu tolong buatkan kopi buat Kang Barkah.”
Di hadapan Esih, Barkah
duduk bersila. Lelaki berusia 35 tahun itu bertubuh tegap, tinggi, berkumis
lebat dan kulitnya kecoklatan. Ia tersenyum melihat Esih, tetapi bukan senyum
keramahan melainkan senyum penuh nafsu binatang.
“Ada apa akang ke sini?”
tanya Esih ketus.
“Esih, bagaimana? Akang kan
sudah kangen sama Esih,” jawab Barkah merayu, Esih merasa jijik, perutnya mual.
Ia tak sudi sebenarnya bertemu dengan laki-laki beristri dan beranak dua ini.
“Ini, ada oleh-oleh buat, Esih,” Barkah menyodorkan bungkusan kresek hitam.
Esih tidak mengucapkan terima kasih, bahkan menerima bungkusannya saja tidak.
Terpaksa Barkah meletakkan kembali martabak manis yang sengaja dibelinya.
Rina datang dari dapur dan membawa
kopi untuk Barkah lalu kembali lagi ke dapur. “Sudah dua minggu akang tidak
melihat Esih, akang benar-benar rindu,”
“Apa tidak kangen sama
istri dan anak-anak akang di rumah?”
“Aduh, Esih itu beda dong, kalau
sama Esih kangennya sampe ke ubun-ubun, he he he,”
Esih tidak menjawab, ia
memalingkan wajah. Malam itu waktu terasa lambat berjalan. Esih yang sudah
tidak betah menemani Barkah mulai gelisah. Di mata Esih, laki-laki di
hadapannya tak lebih dari seorang supir truk yang terkenal sebagai pembuat
onar, tukang mabuk, hobi jajan perempuan, dan tidak bertanggung jawab pada anak
dan istrinya. Mana mungkin Esih sudi berbaik-baik kata pada orang semacam
Barkah.
“Oh ya, Akang dengar Haji
Sobara akan melaksanakan syukuran besar khitanan cucu pertamanya, pasti Esih
diundang kan di acara itu,” kata Barkah, matanya berapi-api.
“Iya,” jawab Esih singkat.
“Akhirnya, akang bisa
melihat Esih ngeronggeng lagi. Kalau Esih sudah menari halaaah akang bisa mabuk
kepayang hahaha,”
Esih tidak berkata-kata.
Tapi tampak dari matanya ia sudah benar-benar muak berbicara dengan lelaki ini.
“Maaf kang, sudah malam,
Esih mau istirahat,” kata Esih tiba-tiba.
“Ya sudah, akang pamit, ini
ada sekedarnya buat Esih,” Barkah menyodorkan uang 100 ribu rupiah kepada Esih.
“Apa ini kang? Jangan, Esih tidak berhak menerimanya” tolak Esih.
“Tidak apa-apa, Esih, ambil
saja buat biaya berobat bapak,”
“Tidak kang, tidak usah, lebih baik akang kasih ke istri sama anak-anak
akang saja di rumah” Esih mendorong tangan Barkah.
Barkah tersentak kaget, ia
sedikit emosi,tetapi berhasil menguasai diri. “Baiklah kalau begitu akang
pulang dulu,” tak ada senyum di wajah laki-laki itu.
Esih tahu Barkah pasti
marah, tetapi ia tak sudi menerima uang dari lelaki itu. Ia takut kalau itu menjadi budi yang harus
dibalas Esih dikemudian hari.
Esih mengantar Barkah
sampai teras rumah, dan laki-laki itu menghilang di ujung jalan berdebu yang
gelap. Ketika Esih hendak kembali ke dalam rumah ia kaget ketika melihat
kumbang-kumbang hitam berjumlah puluhan bertengger di lantai terasnya. Padahal
tadi saat mengantar Barkah belum ada kumbang satu pun di lantai itu. Esih
mengambil sapu, lalu ia menyapu kumbang-kumbang hitam itu. Beberapa ada yang
tetap diam, dan beberapa terbang mengelilinginya. Ia kaget dan mengibaskan
tangannya mengusir kumbang yang terbang. Akhirnya semua kumbang itu terbang ke
luar rumahnya, dan teras rumahnya kembali normal. Esih menutup pintu. “Aneh
sekali, kenapa kumbang-kumbang hitam itu semakin banyak dan berkumpul di
teras,” Esih berkata dalam hati. Sebelum beranjak ke peraduannya ia menengok
bapaknya. Lelaki separuh baya itu tengah tidur pulas, terdengar suara dengkuran
yang agak keras.
***
Di atas peraduannnya Esih
menatap atap rumahnya yang tak berlangit-langit. Kamarnya hanya diterangi lampu
5 watt yang cahanya remang-remang. Perempuan cantik itu melamun. Semenjak
dirinya menadi ronggeng, hilir mudik laki-laki yang mendekatinya. Lebih-lebih
ketika istri Koswara, Nyi Ratna, memasangkan susuk di kening Esih. Bahkan
akhir-akhir ini, Barkah si supir truk, Iwan si mandor pasir, Narto pemilik
warung kopi, dan Junaedi teman sepermainannya yang kini menjadi supir ojek
lebih sering mendekatinya. Tetapi tidak
ada satu pun yang mampu menyentuh hati Esih. Tatapan mereka semua sama seperti
semua laki-laki yang mendekatinya saat ia menari. Tatapan penuh nafsu birahi
untuk menikmati keindahan tubuhnya. Walaupun ia ronggeng, ia masih memiliki
harga diri. Dia tidak seperti kawan-kawannya sesama ronggeng yang mudah jatuh
ke pelukan laki-laki yang sanggup membayar mereka. Esih masih menjaga kesuciannya.
Esih terbangun saat ada
yang bergerak-gerak di pipinya. Gelitikan kecil yang membuatnya geli. Ia
memegang pipinya lalu menyentuh benda kecil. Seketika bergidik tubuh Esih saat
tangannya memegang kumbang hitam. Ia melempar binatang itu ke lantai. Kumbang
itu berjalan tak tentu arah, tetapi tidak terbang.
“Kenapa, kumbang-kumbang
ini?”
Esih melihat sekeliling
kamarnya, ternyata kumbang hitam tidak hanya satu. Ada beberapa kumbang yang
hinggap di dinding kamarnya, di atas lampu, bahkan bebarapa terbang di atap dan
hinggap di genting. Esih merasa ngeri sendiri, ia beranjak dari kasur kapuknya
dan berjalan keluar kamar. Ternyata di ruang tengah dan dapur, kumbang-kumbang
hitam juga bertebangan dan beberapa berdiam di perabotan. Esih melihat ke teras
dari jendela.
Alangkah terkejutnya saat
melihat kumbang-kumbang hitam berkerumun di lantai teras, di daun-daun tanaman
miliknya. Jumlahnya bukan puluhan, tapi ribuan. Terasnya seolah diiselimuti
serangga-serangga kecil berwarna hitam itu. Esih berlari ke kamar bapaknya yang
juga merupakan kamar adiknya. Ia membuka pintu dan melihat Rina masih terbaring
pulas begitupun di kasur yang satunya lagi. Ayahnya masih tidur mendengkur.
Akan tetapi, tak ada satu pun kumbang di kamar ini. Ia mengguncangkan tubuh
adikknya agar bangun.
“Rin, bangun, bangun”
“Ya, ada apa teh?” jawab
Rina dengan suara malas.
“Lihat keluar, yuk? Banyak
sekali kumbang-kumbang hitam di rumah kita?”
“Kumbang hitam? Maksud
teteh apa?”
“Cepet bangun, biar kamu
bisa lihat sendiri,”
Esih menuntun Rina yang
masih dalam keadaan ngantuk ke luar kamar.
Alangkah kagetnya Esih
ketika melihat tak ada satu pun kumbang hitam di rumahnya. Ia berlari ke dapur,
ke kamarnya, dan membuka pintu untuk melihat ke teras. Tak ada kumbang hitam,
bahkan satu pun tidak ada. Esih tertegun. Apakah ia bermimpi?
“Ada apa teh, mana
kumbangnya, Rina tidak melihat kumbang?” Rina bertanya pada kakaknya yang
nampak kebingungan.
Kenapa semua kumbang itu
tiba-tiba hilang? Apakah mereka semua telah pergi, terbang meninggalkan rumah
ini? Esih bertanya-tanya dalam hati.
“Tadi kumbang-kumbang hitam
itu memenuhi dan bertebangan di rumah kita, tapi sekarang mereka sudah tidak
ada,”
“Teteh tadi bermimpi
barangkali,” kata Rina.
“Ya, sudah, memang
barangkali teteh bermimpi. Jangan tidur lagi, bergegas mandi. Kamu kan harus
sekolah,” ada nada sedikit kesal dalam suaranya.
“Teteh, kenapa sih?” .
“Tidak ada apa-apa. Udah
mandi sana!”
Esih menatap Rina yang
berbalik dan meninggalkannya ke kamar mandi. Sementara ia masih tertegun di
depan pintu, masih tak percaya dengan kejadian yang baru dialaminya.
***
Esok harinya, Esih sudah
bersiap di kamar yang disediakan keluarga Haji Sobara untuk para ronggeng. Ia
berhias di depan cermin. Memulas wajahnya dengan bedak, mengoleskan gincu merah
darah ke bibirnya yang manis. Namun, tiba-tiba sesuatu membentur cermin rias.
Esih yang hanya berkutang hitam dan bersamping terkejut. Kumbang hitam menabrak
cermin dan terjatuh tepat di hadapannya. Sesekali kumbang itu bergerak, lalu
gerakannya semakin lambat kemudian diam sama sekali.
“Apa kumbang ini telah
mati?” tanya Esih dalam hati.
Ia mengambil kumbang itu
kemudian membaringkan di telapak tangannya. Kumbang itu telah mati. “Kenapa
akhir-akhir ini kumbang hitam seakan menghantuiku?” Lalu
Esih menggeggam serangga itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Tepat pukul 8 malam. Selesai
berhias, Esih keluar kamar rias bergabung dengan kawan-kawan ronggeng yang
lain. Ia adalah pemimpinnya. Aroma tubuhnya sewangi kembang tujuh rupa. Saat ia
menari, tak ada mata yang berpaling. Sungguh memikat. Diterangi lampu-lampu terang
benderang dan suara gamelan, Esih menari seperti bidadari. Laki-laki berebut
ingin menari dengannya, menyawernya sampai duit mereka habis. Pinggulnya
bergoyang membuat kaum adam semakin menggelepar. Esih menari dengan hati.
Senyumnya begitu tulus, tetapi menggoda. Gerak tangannya nampak luwes dan
anggun. Ia manari dikelilingi banyak lelaki. Ronggeng-ronggeng lain hanya
menatapnya dengan iri karena saweran mereka tak akan sebanyak Esih.
Dua jam berlalu, Koswara
meminta Esih beristirahat sejenak di kamar rias. Esih menerima saran
Koswara, ia melangkah perlahan
meninggalkan riuhnya suasana. Ia membuka pintu kamar dan mengelap keringat di
wajahnya. Esih menyimpan uang saweran di atas meja riasnya. Mata Esih berbinar melihat saweran yang dia
terima, “Alhamdulillah ada uang untuk
berobat bapak,” Ia mulai menghitung sawerannya.
Tiba-tiba pintu terbuka. Esih
melihat lima laki-laki yang sangat ia kenali beringsut ke kamar yang sepi.
Mereka menarik Esih, menahan, dan membantingnya ke kasur empuk itu. Esih
menjerit, tetapi nyanyian Bangbung
Hideung yang dinyanyikan sinden di luar rumah besar Haji Sobara membahana
ke seluruh tempat sehingga jeritnya tak akan terdengar. Esih berontak tetapi
semua percuma, sampingnya tersingkap,
kebayanya koyak. Tawa Barkah, Iwan, Narto, Junaedi, dan Haji Sobara
bergema di atas tubuh Esih. Tak sia-sia, mereka, terutama Haji Sobara, membayar
mahal pada Koswara. Lalu perempuan muda itu merasakan sakit, ia lemas, nafasnya
berat, dan tiba-tiba pandangannya gelap.
***
Seketika bulan purnama memerah
darah. Lalu angin meniup pucuk-pucuk pohon. Tak lama, sang dendam menjelma seekor
kumbang hitam. Ia terbang melintasi keramaian pesta di rumah Haji Sobara.
Kepakan sayapnya mengantarkan tubuh serangga itu menyusuri sawah yang gelap dan
jalan tak beraspal yang sangat ia kenali. Kumbang hitam itu terbang rendah di
sebuah rumah sederhana lalu bertengger di lantai teras berdebu, berharap ia
dapat melihat wajah adik perempuan dan bapaknya yang sangat ia kasihi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar